Minggu, 28 Juni 2020

Cuka Limbah Kulit Pisang


PEMBUATAN CUKA DARI LIMBAH KULIT PISANG


1
 
BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang
Tanaman pisang merupakan tanaman asli Asia Tenggara, bahkan dari beberapa literatur menyebutkan bahwa pisang adalah tanaman asli dari Indonesia. Kuswanto (2003), menyebutkan bahwa pisang adalah tanaman asli Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya berbagai jenis pisang di hutan asli pulau yang ada di seluruh Indonesia.
Sejak dahulu kala pisang telah popular di semua lapisan masyarakat Indonesia. Selain tumbuh sebagai tanaman liar, tanaman pisang juga banyak dibudidayakan. Pada hakekatnya, tanaman pisang diklasifikasikan dalam berbagai jenis. Jenis pisang tersebut memiliki nama tersendiri berdasarkan kekhasan masing-masing. Jenis pisang yang telah familiar seperti pisang ambon, pisang nangka, pisang mas, pisang klutuk, pisang tanduk, pisang hias, pisang kepok dan lain-lainnya. Berbagai pisang tumbuh di Indonesia, ada pisang konsumsi yang bisa langsung dimakan, pisang yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, pisang berbiji, pisang serat, ada pula tanaman pisang yang hanya dijadikan hiasan di pekarangan rumah. Semua tanaman pisang tersebut dapat tumbuh subur di Indonesia. Terbukti hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang, baik yang dipelihara di pekarangan rumah ataupun tumbuh liar di pinggiran jalan (Santoso, 1995).
Secara morfologi tanaman pisang terdiri dari daun, batang, bonggol, bunga pisang, dan buah pisang. Organ-organ tanaman ini sudah banyak dimanfaatkan, terutama yang paling sering dimanfaatkan yaitu buah pisang. Buah pisang dapat dikonsumsi secara langsung, dapat pula diolah menjadi berbagai jenis olahan makanan seperti kripik pisang, sale pisang, pisang goreng, dan lain-lain. Tentu saja yang diolah hanya bagian dagingnya saja, sehingga dari hasil produksi atau pengolahan tersebut meninggalkan limbah yaitu kulit pisang (Hidayat, 2013).

B.   Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain:
1.     Bagi peneliti: memberikan pengetahuan tentang pembuatan cuka dari limbah kulit pisang.
2.     Bagi masyarakat: memberikan informasi tentang cuka kulit pisang yang bisa digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan cuka.


BAB II
PEMBAHASAN

Pisang (Musa paradisiaca) banyak disukai oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, baik dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Selain karena mudah didapat dan harganya terjangkau, buah pisang juga mengandung gizi tinggi, bergizi dan sebagai sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Bahkan oleh beberapa ahli kesehatan menyarankan untuk mengkonsumsi buah ini sebagai makanan diet pengganti karbohidrat, yang biasanya dipenuhi oleh nasi. Kandungan nutrisi lainnya seperti serat dan vitamin dalam buah pisang seperti A, B, dan C, dapat membantu memperlancar sistem metabolisme tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh dari radikal bebas. Serta menjaga kondisi tetap kenyang dalam waktu lama (Wijaya, 2013).
Di Indonesia banyak sekali industri baik rumahan maupun pabrik yang mengolah pisang menjadi berbagai produk olahan makanan, dan tentu saja dari hasil produksi ini akan menghasilkan limbah kulit pisang yang sangat banyak. Dengan jumlah produksi dan konsumsi buah pisang yang banyak akan menghasilkan limbah kulit pisang yang banyak pula. Perbandingan antara kulit dan daging adalah 1,2 : 1,6 sehingga perlu dipikirkan pemanfaatannya. Limbah yang tidak dimanfaatkan dan diberdayakan dengan benar akan menjadi sumber pencemar (Kumalaningsih, 1993).
Limbah kulit pisang biasanya hanya dibuang begitu saja atau digunakan sebagai pakan ternak. Limbah kulit pisang merupakan limbah organik yang mempunyai kandungan gizi yang masih dapat dimanfaatkan. Kandungan utama yang dapat dimanfaatkan dari limbah kulit pisang adalah karbohidrat, kandungan karbohidrat pada kulit pisang cukup tinggi yaitu 18,5%. Seperti yang kita ketahui bahwa karbohidrat adalah bahan dasar dalam pembuatan etanol. Sehingga salah satu upaya pemberdayaan limbah kulit pisang yaitu dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan cuka organic. Cuka organik merupakan cuka yang terbuat dari bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri fermentor menjadi unsur yang dapat digunakan dalam kehidupan manusia. Selain aman, cuka organik juga mempunyai beberapa manfaat bagi kesehatan karena cuka yang terbuat dari bahan dasar kulit pisang ini mengandung karbohidrat, protein, serat dan beberapa jenis vitamin. Kadar asam yang tinggi pada cuka produksi pabrik dapat mempengaruhi keasaman darah dan dapat mengganggu pencernaan. Selain itu, di kalangan masyarakat cuka pabrik biasanya digunakan sebagai bahan pembersih logam dan porselen. Cuka industri merupakan suatu cairan yang dapat digunakan untuk membersihkan noda atau kerak yang terdapat pada keramik kamar mandi. Namun hingga saat ini belum ada penelitian secara ilmiah untuk membuktikan pendapat tersebut (Gunawan, 2013).


BAB III
KESIMPULAN & SARAN

A.  Kesimpulan
Untuk menghindari resiko terjadinya penyakit maka, perlu diperimbangkan untuk mengganti konsumsi cuka pabrik dengan cuka organik berbahan dasar buah. Cuka organik dapat dimanfaatkan antara lain sebagai salah satu penyedap rasa khas untuk masakan Indonesia, contoh ikan asam manis, asinan, acar, untuk makanan pelengkap misalkan bakso, dan lain- lain.

B.   Saran
Bijaklah dalam mengkonsumsi cuka, karena jika dimakan sembarangan, bisa jadi membahayakan kesehatan organ pencernaan. Jika ingin mendapatkan rasa asam pada makanan, andabisa mengganti cuka dengan perasan lemon atau irisan mangga, yang bisa menjadi alternative yang lebih aman bagi tubuh.


BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Tata. 2013. Kandungan dan Manfaat Kulit pisang. http://tanamanobatherbal.blogspot.com/2013/02/kandungan-dan-kegunaan-pisang.html. Diakses tanggal 29 Juni 2020.

Hidayat. 2013. Manfaat dan Kegunaan Tanaman Pisang. http://www.anakgronomy.com/2013/05/manfaat-dan-kandungan-tanaman-pisang.html. Diakses tanggal 29 Juni 2020.

Kumalaningsih, S. 1993. System Penanganan dan Pengolahan Pisang Segar Moderen. Malang: Selolah Tinggi Pertanian Tribhuwana.

Kuswanto. 2003. Monograf Limbah Pisang. Jakarta: PT Gramedia.

Santoso, Hieronymus B. 1995. Cuka Pisang. Yogyakarta: Kanisius

Wijaya. 2013. Manfaat Buah Asli Indonesia. Jakarta: PT Gramedia